Analisis Peter Singer : Baju Baru Kapitalisme

Posted: 08/09/2011 in Ekonomi, Tulisan Tokoh

Presiden Prancis Nicholas Sarkozy dan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair mulai berpikir. Pada sebuah simposium di Paris bulan lalu bertema “Dunia Baru, Kapitalisme Baru,” Sarkozy mengambarkan kapitalisme berbasis spekulasi finansial adalah sebuah “sistem tak bermoral” dan menunjukkan “logika murtad kapitalisme.” Dia berargumen bahwa kapitalisme membutuhkan penemuan nilai moral baru. Blair menyebut satu dasar keuangan baru berdasar “nilai lain dari maksimalisasi keuntungan jangka pendek.”

Amat mengejutkan bagaimana para politisi dari semua golongan –meski memiliki pembela ideologi pasar yang tak beraturan— menerima ide negara seharusnya menghapuskan utang sejumlah bank dan perusahaan asuransi saat mereka terjerumus dalam kesulitan. Dengan pengecualian sejumlah kecil pembela berbasis ideologi pasar bebas, beberapa lebih nyaman memilih resiko membiarkan bank-bank itu bertumbangan.

Siapa yang tahu tentang konsekuensi yang akan terjadi? Banyak yang menakutkan akan terjadi pengangguran massal, sebuah gelombang kebangkrutan, jutaan keluarga kehilangan rumah, jaminan keamanan sosial menukik ke titik nol, dan mungkin kerusuhan dan sebuah pemberontakan ekstremis politik seperti kemunculan Hitler di Jerman selama masa depresi tahun 1930.

Pilihan menyelamatkan perbankan dari resiko finansial atas kesalahan dirinya sendiri menunjukkan sebuah pertukaran nilai dari kepercayaan ke dalam kebijaksanaan pasar. Faktanya, pasar memperoleh beberapa kesalahan besar –seperti nilai dari keamanan finansial.  Namun apakah penurunan juga menghasilkan sebuah perubahan dalam nilai-nilai konsumen?

Bukan kebetulan bahwa seminar “Dunia Baru, Kapitalisme Baru” digelar di Prancis, ketika beberapa kritik atas krisis finansial global menjadi sebuah keniscayaan dan sangat akurat sebab hal ini menghasilkan perubahan nilai. Dalam surat kabar Le Figaro, sebuah berita mewartakan tentang bagaimana skala pembiayaan diprediksi akan menimbulkan “revolusi nilai” dan bahwa penduduk akan mulai melibatkan keluarga dalam bekerja. (Amerika berpikir Prancis, dengan jam kerja pendek dan libur musim panas lebih panjang, akan mulai melibatkan keluarga ke dalam kerja).

Prancis  hampir selalu suka berhutang –ketika mereka membayar dengan uang plastik, mereka lebih memilih kartu debit, mengabaikan dana yang mereka miliki dari penggunaan kartu kredit. Kini mereka melihat krisis sekarang sebagai sebuah  bentuk pertahanan diri dari nilai-nilai untuk tidak mengeluarkan uang yang tidak anda punya.

Artinya, dalam banyak kasus, terjadi pengurangan pembelian barang mewah –sesuatu yang sulit diterima mengingat Prancis adalah negara busana, parfum, dan sampanye. Namun itulah ekses dari gaya, dan banyak laporan pembelian perhiasan dan barang mewah kini merosot drastis. Richemont, perusahaan barang mewah di Swiss yang memegang merek Cartier dan Montblanc, mengatakan tengah menghadapi “situasi pasar terberat sejak perusahaan ini berdiri 20 tahun lalu.” Namun apakah ini tanda perubahan makna nilai, atau hanya penurunan sementara, karena dorongan kegagalan investasi konsumen dan ketidakpastian ekonomi?

Dalam pidato pelantikan, Presiden Barack Obama berkata, “Waktu telah datang untuk mengenyahkan sikap kekanak-kanakan” dan mendesak memilih ide luhur bahwa “semua orang sama, semua orang bebas, dan semua berhak mendapat sebuah perubahan arti sesungguhnya tentang kebahagiaan.” Mengherankan memang krisis finansial global telah memperbaiki kepekaan rasa apa yang terpenting.

Dapatkah krisis mengingatkan kita bahwa membeli barang mewah lebih karena status yang dibawanya ketimbang nilai intristik yang melekat? Dapatkah hal ini menolong kita untuk lebih menghargai pusat kebahagian kita ketimbang kemampuan kita menghabiskan uang untuk pakaian, jam mahal dan makan malam mewah?  Dapatkah hal itu, seperti yang Obama katakan, membuat kita lebih peduli pada kebutuhan mereka yang hidup miskin dan jauh lebih buruk dari kebutuhan kita, karena krisis keuangan atau tanpa krisis keuangan?

Bahaya ini berpotensi mengancam nilai-nilai perubahan nyata, seperti yang sudah sering terjadi sebelumnya,  oleh orang-orang yang melihat hal itu sebagai kesempatan mencetak uang. Desainer Nathalie Rykiel dilaporkan berencana menunjukkan koleksi Sonia Rykiel terbaru bulan Maret tapi tidak di tempat pameran, melainkan di ruang kecil butik miliknya sendiri. “Ini dimaksud mengakrabkan pembeli, dan kembali ke nilai-nilai,” katanya pada International Herald Tribune. “Kami ingin kembali ke skala kecil, satu orang menyentuh orang lainnya. Kami ingin bilang, ‘Kembalilah ke rumah saya. Lihat dan rasakan pakaiannya.’”

Ya, di dunia dengan 10 juta anak meninggal tiap tahunnya karena kemiskinan, ancaman emisi gas rumah kaca yang membuat ratusan juta orang berpotensi menjadi pengungsi, kita harus singgah di butik Paris dan merasakan busana. Jika penduduk sungguh peduli tentang nilai-nilai moral yang perlu dipertahankan, mereka tidak akan membeli semua pakaian desainer itu. Tapi apakah perubahan Nathalie Rykiel –atau kelas kaya di Prancis, Italia, atau Amerika Serikat– karena  telah mengadopsi nilai-nilai itu?

Buku baru Peter Singer,
The Life You Can Save: Acting Now to End World Poverty, akan terbit di beberapa negara mulai beberapa bulan mendatang. Hak cipta ada pada http://www.projectsindicate.org.• VIVAnews

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s