Kegagalan Kebijakan Ekonomi Triple Track Strategy Rezim SBY – Boediono

Posted: 23/08/2011 in Ekonomi, Politik

Oleh : Rizky Agn Aditya

Teori Trickle Down Effect telah gagal dan saya menetapkan Triple Track Strategy, yaitu strategy pro-growth, pro-job, pro-poor. (Kampanye SBY-Boediono dalam Pilpres 2009)

Dalam kampanye plipres 2009, SBY-Boediono dengan keras menolak stigma sebagai agen neoliberalisme. Dalam setiap kampanye kesan populis selalu menjadi bahan pokok komunikasi politik kepada para konstituen, bahkan tidak jarang pasangan ini melakukan kecaman-kecaman keras terhadap hokum-hukum ekonomi neoliberal seperti hokum trickle down effect (hokum tetesan kebawah) yang menjadi bagian dari gagasan neoliberalisme.

Trickle down effect begitu popular dikala orde baru, hamper semua ekonom sampai dengan rakyat biasa begitu terpukau dengan teori ini dan Indonesia dianggap sebagai model paling berhasil dari penerapan teori ini, Indonesia dianggap sebagai “keajaiban ekonomi ASIA Tenggara”. Secara lebih sederhana trickle down effect dapat dipahami bahwa, kemakmuran akan dapat tercapai dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tanpa perlu memperhitungkan pemerataan ekonomi. Dalam pandangan teori ini, suatu suntikan ekspansi ekonomi akan berdampak pada multiplier effect terhadap pelaku ekonomi di bawahnya, sehingga akan berimbas pada kemakmuran. Sebagai contoh pembangunan sektor konstruksi akan terimbas dampak positif jasa kontraktor langsung, produsen dan pedagang besi, produsen dan pedagang semen, pasir dan seterusnya. Bahasa lebih sederhananya lagi, teori ini mengibaratkan bahwa kemakmuran bagaikan tetesan air yang akan merata jika diteteskan dari atas akan menetes sampai ke bawah. Akan tetapi dalam kenyataanya, teori ini gagal ditandai dengan krisis 1997 dan terbongkarnya kebobrokan ekonomi yang penuh dengan korupsi, kolusi, nepotisme, yang melahirkan oligarki sampai dengan saat ini. Trickle down effect dianggap sebagai salah satu penyebab tidak adanya pemerataan yang melahirkan disparitas kesejahteraan yang tinggi, sehingga jurang si kaya dengan si miskin terlampau dalam karena trickle down effect hanya melahirkan trickle up effect (penggumpalan diatas), yang berarti PDB dan seluruh profit aktivitas ekonomi domestic maupun non-domestik hanya dikuasai beberapa orang saja.

Kalangan aktivis, ekonom kerakyatan, politisi, dan lapisan masyarakat bawah pun serta merta mengutuk konsep ekonomi ini, trickle down effect dianggap sebagai biang kehancuran ekonomi dan maraknya kapitalisme birokratik yang hidup dari rente, dan masyarakat menuntut perubahan radikal. Seakan gayung bersambut, tepatnya pada pemilu 2009 pasangan SBY-Boediono yang kala itu mencalonkan diri dari partai Demokrat yang berkoalisi dengan PKS, PKB, PPP membawa janji-janji kampanye yang manis dan menjajikan dengan kampanye ekonomi triple track strategy, yaitu sebuah strategi ekonomi yang konsen dalam peningkatan pertumbuhan melalui investasi dalam dan luar negeri, pengurangan pengangguran melalui industrialisasi, dan penanggulangan kemiskinan melalui dua hal tersebut. Susilo Bambang Yudhoyono menjanjikan pembangunan ke depan yang mengacu pada keserasian dan keseimbangan antar pertumbuhan dan pemerataan atau Growth with Equity. Dalam kenyataannya di banyak negara, termasuk di Indonesia, teori triple down effect telah gagal menciptakan kemakmuran untuk semua, Karena itulah, untuk mewujudkan pembangunan dan pemerataan secara bersamaan, saya menetapkan triple track strategy, yaitu strategi yang pro-growth, pro-job, dan pro-poor dalam pembangunan ekonomi nasional.,” ujar SBY dalam pidato kampanye di Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2009. Kebijakan ini dinilai sebagai antitesis (lawan) dari strategy trickle down effect yang tidak menghasilkan pemerataan dan menjadi sebab kebangkrutan ekonomi 1997.

Setelah tiga tahun berkuasa, apakah kebijakan triple track strategy ala SBY-Boediono ini dapat keluar dari pengaruh trickle down effect serta terbukti manjur? Untuk menjawabnya saya ingin mengajukan data dari Merrill Lynch world wealth report yang menyatakan : That in 2010 Indonesia had 43,000 rich people (with assets of more than US$1 million), which is about 0.2 percent of the population. Their combined wealth equals 25 percent of Indonesia’s gross domestic product (Merrill Lynch world wealth report). Laporan ini di release oleh Merill Lynch sebuah perusahaan manajemen dan penasehat keuangan peringkat atas dunia menunjukan fakta bahwa pada tahun 2010 Indonesia memiliki orang kaya sebanyak 43.000 orang (dengan aset lebih dari US $ 1 juta), atau sekitar 0,2 persen dari populasi 230 juta masyarakat, dengan kekayaan yang jika digabungkan sama dengan 25 persen dari produk domestik bruto Indonesia. Angka dari Merrill Lynch tersebut menunjukan sebuah fakta bahwa jurang “si kaya dengan si miskin” di Indonesia sudah terlampau dalam dan diluar batas kewajaran. Bayangkan kekayaan 43ribu orang dari 230 juta jiwa masyarakat Indonesia mampu menguasai 25 GDP/PDB Indonesia. Selain data dari Merrill Lynch world wealth report, data mencengangkan juga di realease oleh LPS. Lembaga Penjamin Simpan (LPS) yang merupakan otoritas tertinggi dalam insurance saving di system perbankan Indonesia. Dari data terbaru yang di release LPS menunjukan jumlah dana nasabah kaya bank dengan simpanan di atas Rp 5 miliar mencapai Rp 1.011,17 triliun. Naik Rp 5,78 triliun dibanding akhir Juni 2011. Dari total simpanan tersebut, yang dijamin pemerintah melalui LPS mencapai Rp 1.481,85 triliun di Juli 2011. Jumlah itu mengalami kenaikan Rp 21,42 triliun, dibandingkan Juni 2011 yang sebesar Rp 1.460,42 triliun. Akan tetapi anehnya, meskipun terjadi kenaikan total simpanan namun jumlah rekening mengalami penurunan sebesar 826.839 rekening atau minus 0,83% dibandingkan dengan jumlah rekening pada bulan sebelumnya sebesar 99.553.678 rekening. Penurunan ini menyebabkan jumlah rekening per 31 juli 2011 hanya sebesar 98.726.839 rekening. Dari data yang disajikan LPS terdapat keanehan yang begitu mencolok mata kita, dimana tingginya jumlah simpanan tidak di imbangi oleh meningkatnya jumlah tabungan. Artinya jumlah kekayaan yang terasuransi dibawah LPS hanya dikuasai oleh beberapa gelintir kepala sesuai dengan data yang disajikan Merrill lynch.

Dari data yang tersaji, kini kita dihadapkan pada kenyaatan bahwa Triple Track Strategi yang katanya mampu menjadi antitesa dari Trickle Down Effect adalah bohong. Sejatinya Tripple Track Strategi adalah sama dengan Trickle Down Effect yang senyata-nyatanya masih melestarikan kesenjangan ekonomi yang dalam dan tidak mampu mengatasi pengangguran dan kemiskinan. hal ini sangat berbahaya dalam sistim demokrasi, karena kesenjangan menimbulkan kemungkinan-kemungkinan tingginya eskalasi konflik yang timbul akibat kesenjangan, serta menjadikan sirkulasi kekayaan hanya terpusat di kalangan-kalangan atas saja dan Menurut Jeffrey A. Winters, seorang profesor ilmu politik di Northwestern University di Amerika Serikat, kesenjangan yang lebar antara kaya dan miskin di Indonesia telah menciptakan oligarki dalam sistem demokrasi Indonesia. Para oligarki, menggunakan kekayaan mereka, untuk berusaha mendominasi akses kekuasaan melalui partai politik sebagai cara untuk melindungi dan menambah kekayaan mereka. Fenomena ini adalah pengulangan sejarah dari kegagalan trickle down effect yang tidak mampu menumbuhkan pemerataan persis yang dijalankan dalam kebijakan ekonomi orba. Lalu, masihkah kita musti percaya dengan janji-janji politisi???

Sumber :

Www.Detik.com

Www.LPS.go.id

Www.ekosospol.wordpress.com/2011/08/21/penghianatan-rezim-komprador-dan-oligarki-kekuasaan-musti-dihentikan/

Komentar
  1. politikus_tjap_kudis mengatakan:

    bener bang, ekonomi tambah hari tambah sulit, cari kerja susah…
    SBY tukang bohong….

  2. kampret_solo mengatakan:

    urip tambah angel, sing sugih semugih tambah sugih sing kere soyo kisut tambah koyo clurut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s