Refleksi 66 Tahun Indonesia Merdeka : Sudahkah Kita Benar-Benar Merdeka???

Posted: 17/08/2011 in Budaya, Lokalitas, Politik

Oleh : Rizky Agn Aditya

“Bagaimana jika warga Negara Indonesia menggugat World Bank ke arbitrase internasional untuk mengganti rugi atas sekian kerugian yang mereka tanggung, karena hutang yang mereka tanggung saat ini tidak pernah mereka mendapatkan uangnya, dan habis oleh tindakan korup pemerintahan orba?/ kami bisa bangkrut!! Mengapa?/ karena ini terjadi di seluruh dunia terutama Negara-negara dunia ketiga.”

(petikan dialog jefrey winters kepada auditor world bank)

Petikan dialog diatas dapat menjadi renungan kita atas sekian kondisi karut marutnya negeri ini dan dapat menjadi sebuah ukuran betapa indentiknya negeri kita yang katanya kaya raya ini dengan kejahatan kleptokrasi, hutang najis dari luar negeri[1], dan ketertundukan sebagai Negara vassal[2] yang setia memfasilitasi eksploitasi super intensif kapitalisme global. Hutang najis, vassalisasi negara dan gaya kepemimpinan kleptomania seakan telah menjadi pasangan ideal dalam pembangunan bangsa ini pasca kemerdekaan, dan juga menjadi resep jalan pintas elite-elite kekuasaan untuk kaya mendadak tanpa melalui proses panjang yang berliku. Sungguh sebuah penghianatan sejarah, dimana ribuan bahkan jutaan nyawa hilang, dan jutaan keluarga terpisah dan kehilangan saudara, harta, benda dan tempat tinggal dikala revolusi 1945 dan kini semua pengorbanan itu hanya menghasilkan elite-elite berwatak komprador[3] dengan rezim kleptokrasi[4] yang menghamba pada kekuatan modal internasional.

Mengutip pidato bung Hatta dalam KMB pada tahun 1949 “kemerdekaan Indonesia bukanlah akhir dari tujuan kita, kemerdekaan adalah jalan untuk menciptakan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera”. Dalam pidato tersebut bung hatta memiliki harapan yang tergambar jelas bahwa “kemerdekaan” adalah jalan menuju kesejahteraan dan kemerdekaan bukanlah hanya sebatas dalam wilayah politik tetapi juga secara ekonomi, social, budaya. Namun setelah 66 tahun negeri ini merdeka apakah semua harapan itu terbayarkan? Jawabanya adalah tidak! Saat ini kemerdekaan yang kita dapatkan 66 tahun lalu tidak lagi menjadi jalan kesejahteraan akan tetapi menjadi jalan perebutan kekuasaan yang di ikuti pembodohan massal oleh penguasa kepada rakyat dalam wilayah – wilayah politik, ekonomi,social, budaya, dan lainya.

Dalam pembacaan yang lebih luas, kemerdekaan semu bangsa ini akan sangat nyata terlihat ketika kita melihat betapa mudahnya tambang-tambang emas kita dikuasai Freeport, sumur minyak kita dikuasai Exxon, tambang batu bara kita dikuasai KPC Bakrie Group tanpa pernah bayar pajak, ini adalah sebuah kebodohan yang telanjang dan merendahkan akal sehat kita sebagai manusia. Bagaimana mungkin terjadi penghambaan Negara terhadap kekuatan modal jika tidak ada dari bagian penguasa yang menjadi quislings atau kolaborator penghianat yang mendapatkan keuntungan dari pendudukan sumber daya kekayaan Negara oleh modal. Disisi lain, mekanisme demokrasi maksimalis yang diharapkan mampu menjadi media balance of power antara massa dengan penguasa dan menjadi tuntutan rakyat dalam gerakan 1998 ternyata kini hanya menjadi demokrasi procedural yang menghadirkan oligarki kekuasaan yang menguntungkan elite-elite komprador penghianat rakyat yang rakus menghabisi setiap hutang najis dalam APBN Negara, hingga akhirnya kitalah, rakyatlah yang menanggung sekian hutang tersebut. Sekali lagi ini adalah sebuah penghianatan terhadap amanat rakyat dan sejarah revolusi agustus 1945. Lalu apakah benar Negara ini telah merdeka? Ketertundukan Negara dibawah modal, serta dominasi elite-elite pengidap kleptomania yang rakus menikmati hutang najis telah benar-benar menyandera laju bangsa ini dan dibiarkan untuk tetap tertinggal.

Sebagai sebuah ikhtiar penyelesaian, angkatan muda harus mampu mempelopori sebuah gerakan politik yang terdidik dengan ideology yang kuat dan musti berani turun kebawah membangun konsolidasi pada tingkat pedesaan untuk menciptakan sebuah blok masyarakat baru dengan budaya baru, semangat baru, dan ideology baru. Langkah ini musti dilakukan karena senyata-nyatanya partai politik dan segala elemen yang terkait dengan kekuasaan ternyata sudah tidak mampu lagi menciptakan sebuah perubahan berarti. Angkatan muda musti mendidik rakyat dengan pergerakan dan mendidik penguasa dengan perlawanan, serta memunculkan kritisisme massa yang telah sekian lama dininabobokan sekehendaknya, dihianati dan dimanipulasi kesadarannya. Juga menciptakan formasi social yang sehat lewat penguatan basic produktif berdasarkan perkembangan mode produksi kapital yang berlangsung dalam masyarakat.


[1] Hutang najis adalah sebuah skema hutang luar negeri yang diberikan kesebuah Negara untuk mendorong kesejahteraan rakyatnya akan tetapi dana hutang tersebut tidak digunakan untuk kesejahteraan rakyat, melainkan di korupsi oleh pejabat-pejabat yang berkuasa, dan atau digunakan untuk membayar konsultan-konsultan alokasi hutang yang berasal dari pihak kreditor. Untuk lebih jelasnya lihat di : Jhon Perkins. Conffesion of Economic Hit Man. Abdi Tandur Press. Jakarta. 2005.

[2] Negara dengan otonomi semu (Negara boneka)

[3] Komprador berasal dari bahasa portugis, yang secara bahasa artinya pembeli (buyer). Menurut ensiklopedia Britanica, istilah komprador merujuk kepada anggota kelas pedagang Cina yang membantu pedagang Barat di dalam negeri Cina pada abad ke-18 akhir, abad ke-19, dan awal abad ke-20. Mereka direkrut dengan kontrak tertentu. Para komprador itu bertanggung jawab atas para pekerja Cina spesialis pertukaran mata uang, para penerjemah, kuli dan pengawal (penjaga).  Menurut kamus Mirriam-Webster, istilah komprador itu muncul sejak tahun 1840; artinya adalah agen; orang Cina yang diikat (direkrut) oleh suatu eksistensi asing di dalam negeri Cina untuk bertanggung jawab atas para pekerja Cina dan untuk bertindak sebagai perantara di dalam urusan bisnis. Pengartian komprador dalam istilah politik mengacu pada agen yang memfasilitasi kepentingan luar negeri dalam bidang ekonomi, social, politik, dan bahkan budaya.

[4] Kleptokrasi berasal dari istilah yunani, kleptein dan kratos. Kleptein berarti mencuri dan kratos berarti pemerintahan. Kleptokrasi secara sederhana diartikan sebagai pemerintahan yang korup/pemerintahan yang di dominasi maling.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s