Wawancara Takashi Shiraishi tentang Boven Digoel

Posted: 16/08/2011 in Sejarah, Tulisan Tokoh

TAKASHI SHIRAISHI TENTANG DIGUL (1/5)

“Berpuluh kawan di tiang gantungan, beratus-ratus melayang jiwanya.
Laki dan istri dalam buangan, beribu-ribu di dalam penjara.
Ya! ya! ya! Itulah yang akan, mendatangkan dunia kemerdekaan.
Ayo, lawan kawan kita semua. Hancurkanlah si penjajah durhaka!”

Itu sebagian dari lagu “12 Nopember” yang menceritakan Pemberontakan PKI
tahun 1926. Setelah pemberontakan itu para pemimpinnya dibuang ke Digul.
Beberapa tahun kemudian tokoh-tokoh PARI, PNI, PARTINDO, PERMI, PSII, dll juga
dijebloskan ke Digul. Wawancara ini tentang “Laki dan istri dalam buangan” itu
dan tentang arti Digul dalam politik kolonial pada tahun 30-an.
Wawancara ini kami adakan untuk menghormati teman-teman aktivis yang sedang dipenjara
oleh Suharto. Takashi Shiraishi adalah guru sejarah di Universitas Kyoto.
Oleh murid-muridnya dia biasa dipanggil sinsei, artinya guru dalam bahasa
Jepang.

EXORBITANTE RECHTEN
T: Dalam majalah “Indonesia” April 1996, Sinsei menulis artikel “The Phantom World of Digul,” tentang kamp tahanan politik Digul di Irian Barat. Kami ingin tahu lebih banyak tentang Digul ini. Pertama, apa dasar hukumnya pemerintah kolonial Belanda waktu itu membuang para pemberontak 1926 ke Digul?

J: Waktu itu ada hak istimewa dari Gubernur Jenderal yang namanya Exorbitante Rechten. Siapa saja yang ditunjuk oleh Gubernur Jenderal sebagai orang yang mengancam keamanan dan ketertiban, atau rust en orde, dari pemerintah Hindia Belanda, tidak boleh tinggal di Hindia Belanda atau ditunjukkan tempat dimana dia harus tinggal. Itu dasar hukumnya Digul didirikan.

T: Sebelum pemberontakan 1926 itu sudah ada beberapa tokoh yang dibuang. Seperti Pak Sorontiko Samin yang dibuang ke Sumatra Barat tahun 1907. Dr Cipto, Douwes Dekker, Ki Hajar dibuang ke Belanda tahun 1913. Haji Misbach dibuang ke Manokwari tahun 1924, tokoh-tokoh PKI seperti Semaun, Darsono, Tan Malaka, dll, juga dibuang pada awal tahun 20-an. Setelah pemberontakan 1926 itu ada begitu banyak orang yang dibuang ke suatu tempat yang sama. Dan ide untuk membuang itu keluarnya begitu cepat. Pemberontakan terjadi tgl 12
Nopember, 18 Nopember sidang pertama Dewan Hindia. Tgl 19 Nopember sidang kedua, saat itu diputuskan untuk membuat kamp Digul. Jadi cuma seminggu setelah pemberontakan, sudah diputuskan untuk membuat kamp Digul. Dari mana munculnya ide Digul itu? Dan mengapa prosesnya bisa begitu cepat?

J: Saya kira ada dua hal yang pelu diperhatikan. Nomer satu, idenya sudah ada sebelum pemberontakan. Saya kira ide itu pertama kali diungkapkan oleh kakaknya Schrieke, saya lupa jabatannya. Tapi ada dua Schrieke. Satu yang menjadi sosiolog, yang menulis buku dan juga menulis laporan mengenai pemberontakan di Sumatra Barat. Dan satu lagi itu kakaknya, saya kira dia orang nomer satu di bidang hukum waktu itu dan dia yang mengusulkan supaya ada satu tempat khusus didirikan sebagai tempat buangan.

Karena orang-orang macam ini, terutama orang komunis waktu itu, mereka kerjanya keluar dan masuk penjara. Kalau melanggar hukum mereka ditangkap lalu dimasukkan kedalam penjara selama satu tahun atau satu tahun setengah, lalu dikeluarkan lagi. Aktif selama setengah tahun, lalu dimasukkan lagi ke penjara. Menurut Schrieke ini ‘kasihan.’ Lebih baik ditunjukkan tempat dimana mereka bisa mendapat kehidupan yang tentram, tidak diganggu oleh mimpi-mimpi
untuk merdeka atau untuk mendirikan masyarakat komunis. Jadi ide itu sudah ada pada tahun 1925 tapi tetap dipertahankan sebagai ide saja. Sekonyong-konyong, waktu pemberontakan terjadi, ide itu dijalankan. Ini saya kira satu penjelasan.

Tapi dalam konteks yang lebih besar, saya kira perlu diperhatikan satu fakta bahwa Belanda adalah kekuatan kolonial yang minor. Bukan yang nomor satu tetapi nomor tiga, setelah Inggris dan Perancis. Koloni satu-satunya yang mereka punya dan berarti adalah Hindia Belanda. Lain dari Inggris. Karena Inggris punya koloni di Afrika, Australia, India, dan di banyak tempat
lagi. Kalau umpamanya ada orang di Birma yang jadi nakal dan harus dibuang, mereka bisa ditempatkan umpamanya ke Ceylon atau ke Afrika. Tapi karena di Hindia Belanda nggak ada tempat lain, kemana orang-orang macam ini bisa dibuang? Jadi pejabat tinggi Hindia Belanda pada tahun 1926 menyimpulkan bahwa lebih baik mendirikan satu tempat di Hindia Belanda, dimana lebih dari seribu orang bisa dibuang. Saya kira ini penjelasan yang kedua.

T: Bagaimana pemerintah kolonial waktu itu menjual ide Digul ini kepada masyarakat Hindia Belanda maupun kepada masyarakat Belanda sendiri? Apa alasan yang mereka pakai?

J: Pertama, saya kurang tahu apakah mereka memang perlu menjual ide itu. Karena masyarakat Belanda atau masyarakat orang putih di Hindia Belanda begitu paranoid, begitu takut terhadap gerakan apapun dari bumi putera. Jadi barangkali pemerintah tidak perlu menjual ide itu. Masyarakat orang putih senang sekali kalau orang komunis, nasionalis, dll, semua dibuang atau
dibunuh. Selain itu saya kira Gubenur Jenderal De Graeff waktu itu masih percaya dengan kemungkinan untuk membangun Niugini sebagai koloni yang baru. Karena waktu itu Niugini atau Irian Barat memang belum dibangun sama sekali. Jadi De Graeff percaya akan ada kesempatan untuk mendirikan suatu koloni yang baru, yang makmur dan tenteram untuk orang-orang komunis, dan sekaligus juga akan menjadi koloni yang baik untuk Hindia Belanda.

T: Apa ada pengaruh pemikiran orang-orang intel — misalnya kepala polisi rahasia PID — waktu itu? Kalau jaman sekarang urusan kayak gini kan pasti kerjaannya orang intel.

J: Saya kira kepala polisi rahasia waktu itu, namanya Van Der Lely, tidak terlibat dalam keputusan untuk mendirikan Boven Digul. Karena dia pangkatnya nggak begitu tinggi. Saya lupa berapa jumlah orang yang terlibat dalam decision making ini. Tapi ini diputuskan oleh Gubernur Jenderal bersama Raad van Indie atau Dewan Hindia yang merupakan semacam Dewan Pertimbangan Agung kepada Gubernur Jenderal.

T: Ada begitu banyak pulau lain di Hindia Belanda, dan pada waktu itu begitu banyak daerah yang belum pernah dibuka untuk koloni baru. Mengapa justru Digul yang dipilih?

J: Ini pertanyaan yang baik. Saya sendiri belum jelas kenapa Digul yang dipilih. Yang paling penting diperhatikan adalah tempat pembuangan itu harus terisolasi 100%. Dan orang yang diutus mencari tempat pembuangan yang baru itu adalah gubernur propinsi Maluku. Karena Niugini juga termasuk dalam propinsi Maluku orang ini mengusulkan Boven Digul yang paling baik. Atas usulan dari gubernur Maluku itu Dewan Hindia lalu menentukan Boven Digul sebagai tempat
buangan.

Barang kali ada tempat-tempat yang lain. Tapi menurut gubernur propinsi Maluku, Boven Digul itu ideal sebagai tempat buangan karena 100% terisolasi. Jaraknya dari muara sungai Digul itu 455 km ke arah hulu, ke pedalaman. Itu sama dengan jarak Jakarta ke Semarang atau dari Amsterdam ke Paris. Tapi semuanya hutan lebat, rawa-rawa yang banyak nyamuk Malaria dan di sungainya banyak buaya. Banyak penduduk aslinya yang masih ‘head hunter,’ atau masih
kanibal, masih suka makan orang.

RESIDEN DAN POLISI RAHASIA
T: Pemberontakan mulai tgl 12 Nopember 1926 di Banten dan kemudian bulan Januari 1927 di Sumatra Barat. Secara militer pemberontakan itu dengan mudah ditumpas. Kemudian 13 ribu orang ditangkap dan 4500 yang dipenjara setelah diadili. Bagaimana pemerintah kolonial memilih siapa yang mesti dibuang dan siapa yang tidak dibuang?

J: Ini sepenuhnya diserahkan kepada residen dan kepala polisi, terutama polisi rahasia (PID) setempat. Umpamanya di Jawa Tengah, di keresidenan Surakarta, orang yang dibuang saya kira jumlahnya tidak begitu banyak, sekitar 70 orang. Jumlah ini cukup kecil dibandingkan dengan orang yang aktif di pergerakan nasional, terutama pergerakan rakyat pada tahun 20-an di Surakarta. Padahal dari Ujung Pandang, dan dari Sumatra Timur dan daerah sekitar Medan,
jumlah yang dibuang jauh lebih besar, saya kira lebih dari 100 orang. Padahal aktifitas pergerakan rakyat di Ujung Padang dan Sumatra Timur itu nggak sebesar yang di keresidenan Solo. Jadi saya kira ini tergantung pada residen yang mengusulkan siapa yang harus dibuang. Kalau orangnya sudah diusulkan oleh residen, usulannya hampir 100% disahkan oleh Gubernur Jenderal.

T: Bagaimana prosedur pembuangan ini?

J: Kalau dibandingkan dengan prosedur pembuangan sebelum itu, pembuangan sesudah pemberontakan ini menjadi sangat rutin. Waktu Cipto Mangunkusumo dibuang pada awal tahun 20-an, dia tidak boleh tinggal di daerah yang berbahasa Jawa. Jadi dia terpaksa  tinggal di Bandung. Untuk itu prosedurnya cukup panjang. Mula-mula dia harus menjawab banyak pertanyaan. Dan semua pertanyaan yang harus dijawab oleh Cipto itu disusun oleh kepala polisi
rahasia. Kemudian residen mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu kepada Cipto.
Sesudah itu Dewan Hindia kumpul untuk membicarakan masalah pembuangan Cipto.
Tapi prosedur semacam ini sama sekali tidak diambil sesudah pemberontakan. Pokoknya, kalau orangnya sudah diusulkan residen supaya dibuang, terus dia dibuang beneran. Dan pertanyaan itu semuanya sama, tidak disesuaikan dengan kasus perseorangan.

T: Jadi yang sangat menentukan adalah residen?

J: Residen dan polisi rahasia. Karena di setiap karesidenan ada PID. Kepalanya
biasanya polisi profesional yang menjadi pembantu residen.

T: Setelah diputuskan, setelah yang mau dibuang sudah ada daftarnya, lalu kan harus dibangun kamp-nya. Siapa yang mendirikan kamp di tengah-tengah hutan rimba itu?

J: Yang diperintah itu Kapten Becking, orang KNIL. Dia yang memimpin pasukan menumpas pemberontakan di Banten. Kurang jelas kenapa dia yang dijadikan komandan untuk membangun Boven Digul. Barangkali dia dipandang sebagai orang yang mengerti pribumi, yang bisa mengambil hati orang pribumi, saya kira itu alasannya. Dan rupanya dia cukup disukai. Bukan saja disukai oleh para serdadu dari Ambon, tapi juga oleh sebagian dari orang dibuang. Itu bisa dilihat dari  emoarnya Chalid Salim (bersambung-2/5)._
TAKASHI SHIRAISHI TENTANG DIGUL (2/5)

MAU ATAU TIDAK MAU BEKERJA
T: Tahanan pertama datang bulan Maret 1927. Apa mereka kemudian dipisahkan menurut suku-sukunya? Dalam artikel ini Sinsei bilang ada kampung Sumatra — yang isinya orang Minang, Aceh, Lampung. Ada Kampung Banten yang isinya orang-orang Banten saja, dsb.
J: Kediaman itu disusun berdasarkan suku. Tapi saya kira ini bukan atas perintah dari pemerintah, tapi secara alamiah. Umpamanya orang Banten suka kumpul sama orang Banten sebagian karena bahasanya sama.
T: Jadi pemisahan berdasarkan suku-suku itu bukan keputusan pemerintah?

J: Itu bukan keputusan pemerintah. Kalau sudah dimasukkan kedalam kamp semua orang cukup bebas memilih dimana mereka mau tinggal.
T: Sejak tahun 1927 pimpinan kamp mengeluarkan peraturan apakah mau atau tidak mau bekerja sama dengan pemerintah. Kalau mau bekerja sama mereka mendapat bayaran selain 72 sen perhari ditambah dengan 40 sen. Yang tidak mau bekerja sama hanya dapat bayaran 72 sen perhari. Apakah sebagai tapol mereka itu dibayar?
J: Ya. Mereka dibayar sedikit, dikasih makan dan juga logistik. Karena idenya mereka bukan orang kriminal, bukan penjahat. Mereka cuma dipandang sebagai orang yang mengancam keamanan dan ketertiban, rust en orde. Jadi begitu dibuang dan sudah dimasukkan kedalam kamp mereka menjadi orang bebas lagi. Dan sebagai orang bebas, kalau kerja harus dibayar. Itu idenya. Tapi kalau tidak mau kerja tentu mereka tidak dibayar.

T: Dengan adanya pilihan mau bekerja atau tidak mau bekerja ini, apakah
menimbulkan perpecahan di kalangan tapol?
J: Ya, memang. Ini saya kira cukup masuk akal. Bekerja atau tidak mau bekerja itu pilihan, terserah kepada orang di kamp. Kalau pendirian pemerintah,ya terserah kepada orang-orang itu. Kalau mereka mau bekerja – pemerintah tentu satu-satunya lembaga yang bisa memberi pekerjaan — ya mereka akan dibayar. Tapi kalau tidak mau bekerja, ya boleh juga.
T: Pada tahun-tahun pertama ini para tapol berusaha berorganisasi dengan membentuk dewan di setiap kampung, lalu ada Dewan Pusat atau Centraal Raad Digoel. Apa tujuan mereka membentuk CRD itu?
J: Disini saya kira ada dua kelompok. Kelompok yang pertama, umpamanya orang
A, tidak mau bekerja untuk pemerintah, itu sudah merupakan salah satu bentuk perlawanan terhadap pemerintah. Tapi lalu ada dua kelompok, satu kelompok mereka yang tidak mau kerja tapi dia itu juga tidak berbuat apa-apa untuk melawan pemerintah, ya pokoknya tidak mau kerja saja. Disini ada kelompok yang self-employed, kerja sendiri, bukan kerja untuk pemerintah. Mereka mau bekerja umpamanya jadi tukang cukur, atau tukang cuci pakaian untuk sesama teman yang dibuang. Mereka mendapat uang dari sesama orang yang dibuang.
Satu kelompok lagi yang bukan saja tidak mau kerja untuk pemerintah tapi mencoba menyusun perlawanan dalam bentuk yang lain. Saya kira kelompok ini yang mendirikan organisasi untuk pemerintahan sendiri dan mereka tentu dipandang oleh pejabat di Boven Digul sebagai musuh.
T: Selain dengan mengorganisir diri itu — dengan memilih kepala desa sendiri, mendirikan CRD, dsb — apa lagi usaha perlawanannya?
J: Perlawanannya macam-macam. Salah satu bentuk tentu mencoba mendirikan administrasi sendiri. Tapi ada juga orang juga yang merusak jembatan yang didirikan oleh orang-orang yang mau bekerja untuk pemerintah, melakukan pengrusakan atau semacam sabotase. Dan ada juga orang yang tidak mau bicara sama pejabat pemerintah atau orang yang mau bekerja pada pemerintah, semacam boikot. Ya, bentuk perlawanannya macam-macam.
TANAH MERAH DAN TANAH TINGGI
T: Bagaimana usaha pemerintah untuk mematahkan perlawanan para tapol ini?
J: Pemerintah di Boven Digul memandang orang yang secara aktif mencoba menyusun perlawanan sebagai musuh nomer satu. Pada permulaan mereka dipisahkan, dibuang ke tempat lain yang namanya Gudang Arang. Letaknya dekat dengan kamp Tanah Merah, dekat dengan kali Digul. Tapi sesudah itu mereka dibuang ke kamp Tanah Tinggi, itu kamp baru yang didirikan.
T: Tahun berapa Tanah Tinggi didirikan?
J: Saya kira sekitar 1928. Kamp Tanah Tinggi ini jauh dari Tanah Merah, masih 55 km ke arah hulu, sekitar 5 jam dengan motorboat.
T: Apa teknik-teknik biasa — seperti memasang mata-mata dan segala macam teknik sejenis itu — dikerjakan oleh pemerintah Digul?
J: Di Tanah Merah, iya. Untuk mengawasi orang-orang di kamp pemerintah daerah merekrut orang yang kerjanya sebagai mata-mata, sebagai polisi, sebagai klerk, dll. Orang mengerti kalau mereka kerja sebagai mata-mata atau polisi nanti kemungkinan untuk diperbolehkan pulang bisa lebih besar. Jadi cukup banyak yang mau kerja untuk pemerintah.
T: Bagaimana umumnya mentalitas penghuni Tanah Merah itu? Apa bedanya dengan yang di Tanah Tinggi?
J: Kalau yang di Tanah Tinggi orangnya sudah nekad. Mereka tidak mau membangun jalan, mereka sama sekali tidak mau bicara dengan orang pemerintah, dll. Jadi mereka sama sekali nekad. Tapi kalau yang di Tanah Merah ada dua kelompok. Satu kelompok yang sebagaimana saya bilang tadi, orang-orang yang mau kerja untuk pemerintah. Mereka tentu berharap diperbolehkan pulang ke tempat asalnya. Sesudah orang Belanda yang namanya Hillen datang ke Boven Digul, sebagian memang mulai diperbolehkan pulang. Jadi sesudah itu satu-satunya harapan untuk mereka adalah pulang ke kampung asalnya.
Kelompok yang kedua adalah mereka yang tidak mau kerja. Mereka tentu tahu tidak bisa berharap pulang ke kampung asalnya. Tapi mereka mencoba mempertahankan kesadaran. Ya, pokoknya berusaha supaya tidak menjadi gila. Misalnya coba konsentrasi mengerjakan sesuatu.
Umpamanya Chalid Salim, dia itu penulis buku yang sangat bagus tentang Digul.
Setiap hari dia kerjanya cari nyamuk, maksudnya supaya punya kesibukan supaya bisa tetap waras. Setiap hari kesibukannya, ya cari nyamuk. Pokoknya cari kesibukan supaya tidak memikirkan pulang ke kampung. Dia itu selalu sibuk supaya tidak jadi gila. Ini strateginya. Dan saya kira ini sangat penting karena orang yang dibuang ke Digul sama sekali tidak tahu apakah mereka bisa pulang atau tidak? Dan seandainya bisa, kapan juga tidak tahu. Jadi masa depannya sama sekali tidak jelas, dan ini menambah rasa rindunya. Banyak orang yang hancur mentalnya karena putus asa.
Di tempat pembuangan ini sama sekali tidak ada kekejaman secara fisik.
Sama sekali tidak ada. Orangnya bisa bebas, dan pemerintah bilang kepada semua orang kalau mereka mau bekerja untuk pemerintah itu boleh dan dibayar. Kalau tidak mau, ya boleh juga. Orang yang tidak mau bekerja untuk pemerintah punya banyak sekali waktu untuk memikirkan hal-hal lain. Lalu bisa kurang sehat mentalnya. Banyak sekali orang yang menjadi sangat rindu dan putus asa.
Itu semacam siksaan mental. Tentu orang Belanda tahu apa yang sedang terjadi.
T: Tapol bisa bergerak bebas? Apa tidak ada kawat berduri?
J: Seluruh kamp tidak dikelilingi kawat berduri. Sama sekali tidak ada. Yang dikelilingi kawat berduri justru ‘tangsi’ atau kompleks militernya. Alasannya supaya tentara itu tidak bisa dipengaruhi oleh tawanannya.
T: Bagaimana dengan kegiatan keagamaan?
J: Ya, biasa saja. Ada mesjidnya, ada gereja, ada pendeta dan ulamanya, dsb. Tidak kekurangan ulama. Banyak ulama dari Banten, Sumatra Barat, dll.
T: Gimana dengan hiburan atau kegiatan kesenian dan olah raga? Apakah mereka diberi kesempatan?
J: Banyak sekali kegiatan, terutama pada awalnya. Menurut Salim yang paling penting itu kelompok musik. Orang Jawa main gamelan, orang dari Batavia main keroncong, dll. Dan satu hal yang saya masih ingat adalah Xarim MS, yang nanti menjadi pemimpin dari revolusi sosial di Medan. Dia menjadi pemimpin dari jazz band. Rupanya dia orang yang sangat menarik. Dia memilih bekerja untuk pemerintah, entah menjadi apa, tapi pokoknya mau kerja sama dengan pemerintah.
Tapi dia juga mendirikan kelompok jazz dan rupanya dia sangat aktif pada akhir 20-an dan awal 30-an lalu diperbolehkan pulang pada tahun 1934-35. Ya, banyak kegiatan kebudayaan terutama musik dan teater seperti ketoprak, wayang orang, dll. Tapi kesan saya lama kelamaan banyak orang putus asa, lalu kegiatan itu menjadi jarang.
T: Kelompok yang di Tanah Tinggi menurut Sinsei terbagi atas tiga kelompok lagi: kelompok Ali Archam, kelompoknya Sarjono, dan kemudian orang-orang didikan Moskow. Mengapa ini bisa terjadi? Apa yang memisahkan mereka?
J: Saya kira ada dua alasan. Pertama, yang sangat penting — dan ini memisahkan orang yang dilatih di Moskow dari orang-orang yang lain – adalah mereka sangat yakin bahwa cuma merekalah orang yang paling mengerti Marxisme dan Leninisme. Mereka belajar di Moskow, jadi mereka tahu ‘bahasa suci’nya dari Marxisme. Jadi mereka sama sekali tidak percaya pada tulisan-tulisan Marxisme atau Komunisme dalam bahasa Melayu. Mereka jadi sombong dan tidak mau bergaul dengan orang-orang lain kalau orang-orang lain itu tidak patuh pada kepercayaannya.
Kalau perpecahan antara kelompok Sarjono dan kelompok Ali Archam, saya kira ini tergantung pada bagaimana penilaian masing-masing tentang pemberontakan. Tapi ini kurang jelas, ya. Ini cuma dugaan saya, karena bukti-buktinya kurang. Saya menduga orang-orang yang ikut Ali Archam kebanyakan adalah orang yang nanti menjadi orang Murba, yang kemudian ikut Tan Malaka. Kelompok ini orangnya kebanyakan mengalami hari-hari permulaan dari PKI atau ISDV, pada akhir tahun 10-an dan awal 20-an, waktu PKI masih dipimpin oleh Semaun, Tan Malaka, dll. Sedangkan orang yang masuk kelompok Sarjono adalah mereka yang datang sesudah itu, sesudah markas besar PKI dipindah dari Semarang ke Batavia. Jadi saya kira perpecahan ini semacam cerminan dari sejarah PKI sendiri. Karena PKI jaman Semarang dan PKI jaman Batavia dan Bandung itu cukup lain.
T: Lain bagaimana?
J: Nomer satu, pemimpin PKI di Semarang secara representatif adalah Semaun dan Tan Malaka. Mereka mengerti pergerakan secara umum dan mereka juga cukup lama dan cukup banyak aktifitasnya di dunia pergerakan. Mereka bukan saja kenal sesama orang komunis tapi juga kenal baik dengan mereka yang menjadi lawan politiknya, umpamanya Cokroaminoto, Agus Salim, dll. Umpamanya Semaun, dia kenal baik dengan Cokroaminoto, Agus Salim, Suryopranoto, dll.
Sedangkan orang-orang yang menjadi pemimpin PKI di Batavia dan Bandung itu, pertama mereka lebih muda. Kedua, mereka mulai aktif di dunia pergerakan pada awal 20-an, sesudah Serikat Islam pecah. Jadi mereka secara umum memandang Cokroaminoto dll itu betul sebagai lawan. Karena nggak mengalami jaman ketika mereka masih berteman. Jadi mereka lebih sektarian dari pada orang-orang Semarang atau orang yang ikut Ali Archam, Semaun, Tan Malaka, dll, yang masih ingat jaman pergerakan sebelum PKI lahir pada tahun 1920.
T: Tahun berapa PKI Batavia dan Bandung mulai aktif?

J: Mereka mulai sangat aktif sesudah 1922. Terutama sesudah pemogokan VSTP, Serikat Buruh Kereta Api, yang kalah pada tahun 1923. Tapi saya sendiri benar-benar kurang tahu apakah Sarjono ikut disitu. Sarjono saya kira guru dari Surabaya. Tapi umpamanya yang menjadi teman Sarjono, yaitu Budi Sutjitro, dia orang Semarang, kemudian pindah dari Semarang ke Batavia. Lalu ada Winanta, tokoh buruh kereta api di Bandung. Mereka jadi sangat radikal sesudah pemogokan kalah. Kelompok mereka yang mengambil kepemimpinan dari kelompok Semarang.
T: Apa tiga kelompok itu kemudian bisa bersatu lagi?
J: Nggak juga. Kalau dilihat dari tulisan-tulisan yang mereka tinggalkan sesudah mereka kembali ke Jawa dan tulisan mereka pada akhir tahun 50-an dan awal 60-an, akhirnya mereka tetap jalan sendiri-sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s