Kegagalan Managerial Pasar Tradisional Karanggede Kabupaten Boyolali Salah Siapa???

Posted: 03/08/2011 in Lokalitas

Pasar tradisional adalah soko guru ekonomi riil atau yang dalam terminologi politisnya lebih populer sebagai ekonomi kerakyatan. bahkan seorang ekonom Amerika Jhon Meynard Keynes mengatakan : “pasar (pasar tradisional) adalah ekonomi yang sesungguhnya, karena pasar saham tidak beda dengan kontes kecantikan yang tidak bertujuan memilih siapa yang paling cantik tapi siapa yang memiliki kemungkinan tercantik“. perkataan J.M Keynes memiliki arti bahwa stabilitas pasar tradisional lebih tinggi dari pasar saham yang penuh dengan relatifitas, acak dan tidak stabil. Penjagaan terhadap kelestarian pasar tradisional oleh pemerintah daerah yang meliputi pembangunan pasar dengan prinsip efisiensi, efektifitas, modernisasi, dan akses permodalan yang mudah menjadi sangat penting dan wajib dilakukan.

Selain melakukan perubahan mendasar untuk menciptakan pasar tradisional yang efisien, efektif, modern, dan akses permodalan yang mudah. pemerintah juga memiliki tugas penting untuk menjaga dinamika kompetisi agar persaingan tidak berubah menjadi pembantaian sesama manusia atau yang dalam bahasa Ir. Soekarno adalah Exsplotation de il’homme par il’homme (penghisapan oleh manusia kepada manusia). Dalam hal ini tentu pendekatan ekonomi a’la adam smith mengenai pasar bebas yang diatur oleh invisible hand (tangan tak terlihat) harus dianggap tidak pernah ada, karena sejatinya pasar bebas memang tidak pernah ada. Penjagaan pasar tradisional dari kompetisi brutal (brutallity competition) ini perlu dilakukan untuk menjadikan pasar sebagai roda ekonomi yang mampu menjawab solusi permasalahan ekonomi rakyat (pengangguran, kemiskinan, kewirausahaan, dll).

Akan tetapi di boyolali hal itu sepertinya tidak begitu diperhatikan. pasar tradisional terus dibiarkan bergumul dengan keterbelakangan system managerial dan kesesatan tata-kelola. Dinas pasar yang sejatinya adalah kepanjangan tangan pemerintah untuk melakukan pengawasan dan penataan pasar, ternyata tidak mampu berbuat banyak selain penarikan restribusi pasar. sedangkan disisi lain hak-hak pedagang sebagai investor mengenai hak mendapat lingkungan yang kondusif dalam dunia usaha (termasuk di dalamnya aturan yang jelas mengenai persaingan yang tidak sehat), hak mendapat keamanan barang dagangan (termasuk didalamnya hak bebas dari pencurian dan premanisme), dan hak mendapat akses modal yang mudah tidak pernah didapatkan. pemerintah seakan-akan hanya mau dengan uang restribusi tapi menolak tanggung jawab yang harusnya menjadi hak pedagang pasar sebagai investor.

Dalam kasus persaingan yang tidak sehat. saat ini pedagang pasar tradisional karanggede sedang diresahkan oleh fenomena pasar liar di pagi buta (buka jam 2 pagi sampai dengan jam 8 pagi) yang secara signifikan telah menggerogoti omzet pedagang pasar lebih dari 50%. selain masalah pasar liar yang ilegal (karena tidak ber-restribusi dan berada diluar lingkungan pasar), pasar liar juga di dominasi pedagang-pedagang padat modal dari luar boyolali (salatiga, sragen, porwodadi) sehingga mustahil pedagang pasar tradisional karanggede mampu bersaing mengingat dari segi modal saja kalah dan terlebih pedagang pasar ilegal tidak di bebani restribusi dan kewajiban membeli los (tempat berjualan resmi). akhirnya yang terjadi pedagang pasar ilegal mampu menjual barang dengan lebih murah karena biaya produksi kecil (bebas restribusi, bebas kewajiban beli los, dan padat modal) dan disisi lain pedagang pasar tradisional karanggede yang resmi terpaksa menjual barang dengan laba kecil atau bahkan tak mengambil laba yang peting dagangan tidak busuk sambil berharap bisa terus bertahan dan terhindar dari kebangkrutan.

Dalam kasus keamanan, pedagang pasar tradisional karanggede juga mengalami nasib kurang beruntung dimana dalam setiap bulan selalu ada saja maling yang menyatroni dagangan mereka di dalam pasar dan belum lagi pungutan-pungutan liar dari para preman yang meminta dengan kasar dan tidak segan-segan mengobrak abrik dagangan jika menolak memberikan pungutan kepada sang preman. bahkan dari data yang penulis kumpulkan, seorang pedagang dengan inisial ST kerap kali mengalami kemalingan hingga jika di rata-rata hampir satu kali kemalingan per 2 bulan. padahal masih banyak ST-ST lain yang mengalami nasib yang sama. Premanism – pun yang sempat menjadi isu nasional untuk diberantas nyatanya masih ada di pasar karanggede, dengan penuh arogan dan modal tampang serem mereka melakukan pungutan liar kepada para pedagang, meskipun pegawai dinas pasar mengetahui mereka toh tak mampu berbuat banyak dan hanya diam.

Dalam hal ini saya ingin menggugat kampanye bupati-wakil bupati yang terpilih yang kebetulan mereka berangkat dari partai yang mengusung jargon “belo wong cilik” dimana mereka mengangkat isu kampanye “Boyolali pro investasi”. investasi yang dimaksud investasi yang mana??? apakah pedagang pasar itu bukan investor sehingga tidak layak dilindungi??? pedagang pasar itu juga investor karena dari mereka lah ekonomi kerakyatan itu dapat berjalan dan mampu menjadi solusi konkrit bagi permasalahan ekonomi masyarakat (pengangguran, kemiskinan, enterpreunuership).

Komentar
  1. SD mengatakan:

    Ilmu Ekonomi Setan buatan Adam Smith telah membuat sistem perdagangan yang sesungguhnya dilupakan. Entah sampai kapan dunia ini masih percaya dengan orang-orang yang mengacaukan dunia itu.

    Salam kenal.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s