Karanggede Ditinggal Ngawe-awe Di Parani Marake Kere

Posted: 03/08/2011 in Lokalitas

“Karanggede Ditinggal Ngawe-awe Di Parani Marake Kere” sebuah adagium yang kurang lebih berarti “karanggede kalau ditinggal membuat rindu, tapi jika tidak ditinggal membuat miskin”. mungkin lawas terdengar dibenak anak muda sampai dengan orang tua yang tinggal di daerah karanggede (terutama desa kebonan). sebuah adagium yang lahir dari potret marjinalisasi pribumi (indiegenous people) oleh perantauan yang mendesak masyarakat asli untuk terpinggir atau bahkan merantau keluar kota.

Karanggede adalah sebuah Kecamatan yang berada di wilayah administratif Kab. Boyolali bagian utara yang berbatasan langsung dengan Kab. Semarang. Jarak antara Boyolali dengan Karanggede kurang lebih sekitar 35 KM atau 30 menit ditempuh dengan sepeda motor. Diluar Banyudono dan Boyolali kota, Karanggede adalah salah satu Kecamatan yang cukup maju di wilayah administratif Kab. Boyolali, yang pergerakan ekonominya di topang dari perdagangan dan pertanian. Secara keseluruhan terdapat 16 kelurahan/desa yang berada dibawah wilayah administratif Kec. Karanggede, yang diantaranya adalah : Bangkok, Bantengan, Dologan, Grogolan, Karangkepoh, Kebonan, Klari, Klumpit, Manyaran, Mojosari, Pengkol, Pinggir, Sempulur, Sendang, Sranten, Tegalsari. Dari sekian desa hanya desa Kebonan yang perekonomianya relatif bergantung penuh pada perdagangan di pasar tradisional dan mata pencaharian masyarakatnya pun cukup besar yang berkecimpung di dunia bisnis perdagangan. Diluar desa Kebonan masih merupakan desa yang bergantung pada pertanian dan beberapa masyarakatnya merantau ke kota untuk menjadi buruh industri, pengusaha, dll.

Secara geoekonomis, proses peng-kota-an di karanggede terpusat di desa kebonan. hal ini terjadi karena posisi daerah tersebut paling dekat dengan jalan Utama/jalan Kabupaten dan berdekatan dengan Pasar Tradisional Karanggede. Perputaran capital/modal diwilayah ini bisa dibilang cukup besar jika dibandingkan dengan desa-desa lain dan bahkan lebih besar jika dibandingkan Kecamatan-Kecamatan lain di Boyolali seperti : Kec. Klego, Kec. Wonosegoro, Kec. Guwo, dan beberapa kecamatan lainya. hal ini dapat dilihat dari munculnya ratusan pengusaha menengah kebawah yang eksis di wilayah ini, selain itu gaya hidup masyarkatnya-pun sudah tidak lagi tradisional atau dengan kata lain ke-kota-kota-an.

Seperti menjadi hukum besi dari fenomena peng-kota-an, marjinalisasi/peminggiran ikut mengiringi fenomena peng-kota-an di wilayah pusat karanggede yaitu desa kebonan. beberapa pendatang datang dari berbagai daerah untuk membangun usaha dan disisi lain masyarakat asli justru kurang memiliki jiwa enterpreuneurship yang cukup dan memilih merantau, menjadi kuli kasar/tukang parkir atau bahkan menjual tanah dengan harga tinggi kepada pendatang untuk pindah ke daerah pinggiran yang harga tanahnya relatif lebih murah. fenomena ini untuk beberapa saat cukup menguntungkan bagi masyarakat asli dimana mereka mampu memanfaatkan situasi untuk berspekulasi meningkatkan harga tanah mencapai 1.500.000/m, akan tetapi disisi lain mereka juga harus menerima konsekuensi logis untuk menjauh dari sirkuit capital (lintasan modal) yang berpusat di wilayah desa kebonan, dan untuk jangka waktu yang panjang ini adalah keputusan emosional yang tidak ekonomis. fenomena marjinalisasi inilah yang kemudian memunculkan adagium pesimistik “Karanggede Ditinggal Ngawe-awe Di Parani Marake Kere“.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s