Karanggede dan Sekelumit Cerita Tentang Rasialism Anti-Tionghoa

Posted: 03/08/2011 in Lokalitas, Sejarah

Karanggede sebuah daerah di utara Kab. Boyolali adalah sebuah daerah yang secara kesejarahan sepertinya telah di takdirkan menjadi daerah pusat perdagangan. dari tahun ke tahun roda perekonomian karanggede seakan tak pernah surut dan selalu mengalami kemajuan secara ekonomis. pertumbuhan perekonomian yang cukup pesat dari daerah inipun kemudian terkenal ke berbagai daerah yang kemudian setalael tiga wang investor pun datang untuk menanamkan modalnya dan membuka usaha di wilayah karanggede. Namun dari sekian cerita keajaiban ekonomi tersebut, tidak pernah ada yang menyangka jika daerah karanggede  adalah daerah yang sejara historis memiliki cerita pilu mengenai aksi rasialism yang berupa sentimen etnis, pembunuhan dan pengusiran etnis Tionghoa pada awal abad 20 atau sekitar tahun 1910. Sikap rasialis ini bukanlah sebuah aksi sepihak yang terlepas dari causalitas (sebab-akibat) akan tetapi ada sejumlah rentetan kejadian yang mendorong aksi rasialism ini terjadi.

penelusuran sejarah rasialism di karanggede ini tidaklah mungkin terlepas dari sejarah pendirian organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI) yang lahir di solo dan berkembang luas di seluruh karisidenan Surakarta termasuk di dalamnya adalah Kec. Karanggede. Organisasi Sarekat Dagang Islam (SDI) pada awalnya merupakan perkumpulan pedagang-pedagang Islam. Organisasi ini dirintis oleh KH. Samanhudi di Surakarta pada tahun 1905, dengan tujuan awal untuk menghimpun para pedagang pribumi Muslim agar dapat bersaing dengan pedagang-pedagang besar Tionghoa. Pada saat itu, pedagang-pedagang tersebut telah lebih maju usahanya dan memiliki hak dan status yang lebih tinggi dari pada penduduk Indiegenouse People (Pribumi Jawa). Kebijakan yang sengaja diciptakan oleh pemerintah Hindia-Belanda (sebagai alat politik pecah belah tionghoa-pribumi) tersebut kemudian menimbulkan perubahan sosial karena timbulnya kesadaran diantara kaum pribumi.

Berdirinya SDI di solo segera disambut oleh daerah – daerah lain yang ikut mendirikan cabang atau bergabung dibawah payung SDI. dan dari sinilah kemudian banyak penduduk karanggede yang bergabung kedalam SDI karena di saat itu pasar karanggede adalah pasar yang di dominasi oleh pedagang tionghoa. dari sebuah sumber yang penulis dapat, dahulu di sekitaran depan pasar karanggede atau tepatnya dari area toko berlian ke utara sampai dengan perempatan besar (patung kuda prawiro digdoyo)  dan selatan pasar karanggede adalah pertokoan yang dikuasai oleh para pedagang tionghoa. kaum tionghoa cukup dominan kala itu dalam bisnis jual-beli tembakau, candu (morfin), rempah-rempah, dan beras. dari sekian kenyataan itulah kemudian rasa sentimen etnis muncul dikalangan pribumi sehingga memutuskan untuk bergabung kedalam SDI dengan tujuan menyatukan solidaritas untuk bersaing dengan kaum tionghoa.

Seperti balon udara yang terus di pompa pasti akan meletus juga , begitu pula dengan konflik dagang pribumi – tionghoa pada akhirnya pecah juga pada sekitar tahun1918 rumah-rumah dan toko-toko milik orang Tionghoa di karanggede habis dijarah dan dirusak, perkelahian massal pun terjadi oleh massa Sarekat Dagang Islam dengan parang pedagang tionghoa. sampai akhirnya kaum tionghoa terusir ke wilayah salatiga dan daerah-daerah sekitarnya, dan tidak embali lagi ke karanggede.
Sumber : dari wawancara dengan beberapa pelaku sejarah.

Komentar
  1. boyolaliproperty mengatakan:

    Hampir semua kota2 di Jawa Tengah ada sejarah serupa.Jatinom ,Delanggu,Ampel dll.

    • RizkyAgnAditya mengatakan:

      Bener mas. Semua g lepas dari pembentukan (ato lebih jelasnya; rekayasa sosial) masyarakat di masa kolonisasi oleh penjajah lewat klasifikasi etnis dalam peran ekonomi politik.

  2. abu ridho mengatakan:

    Negara maju seperti jepang juga punya sejarah kelam, tapi mereka bisa ambil hikmahnya dan bangkit untuk jadi lebih baik..

    • RizkyAgnAditya mengatakan:

      betul mas, memang seperti itu seharusnya sejarah diperlakukan bukan dalam artian menghafal tanggal dan nama tokoh

  3. wah saya baru tau ttg cerita sejarah yg ini,, padahal sya jg org karanggede asli, mkasi bnyak atas postingan infonya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s